Tugas Online 3 Pelayanan Rawat Inap

Nama : Ira Maya Kartika
Nim : 20160301193
Matkul : Manajemen Pelayanan Rumah Sakit
Seksi 11

Tugas Online 3


Pelayanan Rawat Inap

Pelayanan rawat inap yang baik untuk pasien asuransi dan non asuransi

Pelayanan rawat inap adalah pelayanan terhadap pasien masuk rumah sakit yang menempati tempat tidur perawatan untuk keperluan observasi, diagnosa, terapi, rehabilitasi medik dan atau pelayanan medik lainnya (Depkes RI 1997 yang dikutip dari Suryanti (2002)).


ü  Tujuan Pelayanan Rawat inap :

1.      Membantu penderita memenuhi kebutuhannya sehari-hari sehubungan dengan penyembuhan penyakitnya.
2.      Mengembangkan hubungan kerja sama yang produktif baik antara unit maupun antara profesi.
3.      Menyediakan tempat/ latihan/ praktek bagi siswa perawat.
4.      Memberikan kesempatan kepada tenaga perawat untuk meningkatkan keterampilannya dalam hal keperawatan.
5.      Meningkatkan suasana yang memungkinkan timbul dan berkembangnya gagasan yang kreatif.
6.      Mengandalkan evaluasi yang terus menerus mengenai metode keperawatan yang dipergunakan untuk usaha peningkatan.
7.      Memanfaatkan hasil evaluasi tersebut sebagai alat peningkatan atau perbaikan praktek keperawatan dipergunakan.




ü  Standar pelayanan rawat inap
Menurut Keputusan Menteri kesehatan Nomor : 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, standar minimal rawat inap di rumah sakit adalah sebagai berikut:
1.      Pemberi pelayanan di Rawat Inap adalah Dokter spesialis, dan perawat dengan minimal pendidikan D3.
2.      Dokter penanggung jawab pasien rawat inap 100 % adalah dokter
3.      Ketersediaan Pelayanan Rawat Inap terdiri dari anak, penyakit dalam, kebidanan, dan bedah.
4.      Jam Visite Dokter Spesialis adalah pukul 08.00 – 14.00 setiap hari kerja.
5.      Kejadian infeksi pasca operasi kurang dari 1,5 %.
6.      Kejadian Infeksi Nosokomial kurang dari 1,5 %.
7.      Tidak adanya kejadian pasien jatuh yang berakibat kecacatan / kematian  100% terpenuhi
8.      Kematian pasien > 48 jam kurang dari 0,24 %.
9.      Kejadian pulang paksa kurang dari 5 %.
10.  Kepuasan pelanggan lebih dari 90 %.
11.  Penegakan diagnosis TB melalui pemeriksaan mikroskopis TB lebih dari 60% dan terlaksanana kegiatan pencatatan dan pelaporan TB di Rumah Sakit  juga lebih dari 60%
12.  Ketersediaan pelayanan rawat inap di rumah sakit yang memberikan pelayanan jiwa  terdiri dari NAPZA, Gangguan Psikotik, Gangguan Nerotik,  dan Gangguan Mental Organik
13.  Tidak adanya kejadian  kematian pasien gangguan  jiwa karena bunuh diri 100%
14.  Kejadian re-admission pasien gangguan jiwa dalam waktu ≤ 1 bulan adalah 100%
15.  Lama hari perawatan  pasien gangguan jiwa kurang dari 6 minggu.
ü  Indikator Mutu Pelayanan Rawat Inap
Indikator-indikator pelayanan rumah sakit dapat dipakai untuk mengetahui tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Indikator-indikator berikut bersumber dari sensus harian rawat inap :
1.      BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka penggunaan tempat tidur)
BOR menurut Huffman (1994) adalah “the ratio of patient service days to inpatient bed count days in a period under consideration”. Sedangkan menurut Depkes RI (2005), BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes RI, 2005).
Rumus :     BOR = (Jumlah hari perawatan rumah sakit / (Jumlah tempat tidur X Jumlah hari dalam satu periode)) X 100%
2.      AVLOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)
AVLOS menurut Huffman (1994) adalah “The average hospitalization stay of inpatient discharged during the period under consideration”. AVLOS menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Secara umum nilai AVLOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2005).
Rumus : AVLOS = Jumlah lama dirawat / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
3.      TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)
TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.
Rumus : TOI = ((Jumlah tempat tidur X Periode) – Hari perawatan) / Jumlah pasien keluar (hidup +mati)
4.      BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tempat tidur)
BTO menurut Huffman (1994) adalah “…the net effect of changed in occupancy rate and length of stay”. BTO menurut Depkes RI (2005) adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Idealnya dalam satu tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.
Rumus: BTO = Jumlah pasien keluar (hidup + mati) / Jumlah tempat tidur
5.      NDR (Net Death Rate)
NDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit.
Rumus : NDR = (Jumlah pasien mati > 48 jam / Jumlah pasien keluar (hidup + mati) ) X 1000 ‰
6.      GDR (Gross Death Rate)
GDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian umum untuk setiap 1000 penderita keluar.
Rumus :
 GDR = ( Jumlah pasien mati seluruhnya / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)) X 1000 ‰
Aspek Mutu         Indikator                                                Kesepakatan                Pemantauan
1. Klinis              1. Jumlah decubitus                                0%                               Observasi
                            2. Infeksi suntikan                                  0%
                            3. Infus habis                                          0%
                            4. Gagal pemasangan infus                    < 2%
                            5. Luka yang bernanah di RS                < 2%
2. Efisiensi          1. Kegagalan pemakaian abocath           < 5%                           Perhitungan 
                            2. Termometer pecah                               5%
                            3. Alkohol, betadin tumpah                     2%
                            4. Alat hilang                                           2%
                            5. Alat rusak karena salah pakai              5%
3. Keselamatan     1. Salah obat                                            0%                            Observasi
pasien                   2. Salah dosis                                           0%
                             3. Salah jenis penyuntikan                       0%
                             4. Jatuh dari tempat tidur                         0%
                             5. Jatuh dari blankar                                 0%
4. Kepuasaan        1. Pemberian Informasi                           80%                          Survei
       pasien                   2. Keramahan petugas                             80%
                             3. Kenyamanan ruangan                          80%
                             4. Kebersihan ruangan                             80% 
ü  Prosedur pelayanan pasien rawat inap non Asuransi

       1.          1  Pasien datang di bagian admision dan peugas admission menjelaskan tentang jenis, fasilitas dan tarif Rawat Inap secara jelas kepada pasien.
       2.           2.  Petugas memberitahukan ke pihak ruangan rawat inap akan ada pasien baru
       3.           3.  Petugas ruang rawat inap mengecek / mencarikan tempat / fasilitas yang diinginkan. Jika setuju, maka pasien mengisi formulir persetujuan. Jika tidak setuju, maka petugas menanyakan apakah pasien memilih tempat yang lain selama tempat yang diinginkan belum ada
       4.         4.   Apabila sudah ada kesepakatan dari keluarga / penanggungjawab pasien, maka petugas akan memberikan formulir permintaan rawat inap beserta “Surat Pernyataan Pembayaran” kepada keluarga / penanggung-jawab pasien untuk diisi dan ditanda tangani.
       5.          5.  Pasien diantar atau diarahkan menuju ruang rawat inap untuk dilakukan serah terima pasien
       6.         6. Petugas admission menyerahkan Surat Pengantar Rawat Inap yang berasal dari poliklinik, UGD      maupun rujukan dari dokter swasta kepaad petugas ruang rawat inap.
       7.         7.  Petugas rawat inap mengantarkan pasien ke ruang rawat, menjelaskan peraturan dan tata tertib perawatan, serta fasilitas di ruang rawat pasien
       8.         8.  Selama perawatan inap, petugas medis di unit pelayanan rawat inap akan memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien
       9.         9. Jika perlu pemeriksaan penunjang, maka petugas akan mengantarkan pasien ke ruang pemeriksaan atau tindakan dan memberikan formulir ke unit pemeriksaan yang dituju. Jika tidak, maka pasien tetap mendapatkan pelayanan kesehatan rawat inap
   10.        10. Selesai masa perawatan petugas Rawat Inap menanyakan kepada dokter apakah pasien sudah diperbolehkan untuk pulang. Jika diperbolehkan untuk pulang, maka petugas menginformasikan kepada pihak pendaftaran ada pasien yang keluar / discharge
   11.         11.   Petugas mempersilahkan pasien untuk menyelesaikan administrasi pembayaran di bagian kasir


ü  Prosedur Pelayanan rawat inap pasien dengan Asuransi

       1.           1.  Pasien yang membutuhkan rawat inap atas sesuai indikasi medis akan mendapatkan surat perintah rawat inap dari dokter spesialis RS atau dari UGD
       2.           2.  Surat perintah rawat inap akan ditindak lanjuti dengan mendatangi bagian pendaftaran rawat inap untuk konfirmasi ruangan sesuai hak peserta dengan membawa Kartu peserta asuransi dan Identitas asli (KTP)
       3.          3.  Bila ruang perawatan sesuai hak peserta penuh, maka ybs berhak dirawat 1 (satu) kelas diatas/dibawah haknya. Selanjutnya peserta dapat pindah menempati kamar sesuai haknya dan bila terdapat selisih biaya yang timbul maka peserta membayar selisih biaya perawatan
       4.           4. Bagian Pendaftaran rawat inap di RS akan menerbitkan Surat Keterangan Perawatan RS dan selanjutnya akan diteruskan ke Kantor Cabang Asuransi (sesuai jenis Asuransinya) dapat melalui faksimili atau email agar segera dapat diterbitkan surat jaminan rawat inap
       5.            5. Bidang Pelayanan pihak asuransi akan menerbitkan Surat Jaminan Rawat Inap berdasarkan Surat Keterangan Perawatan RS dan akan dikirim melalui faksimili/email ke RS. Surat jaminan harus sudah diurus selambat-lambatnya 2×24 jam terhitung peserta rawat inap di rumah sakit
       6.          6. Bila pasien membutuhkan pemeriksaan penunjang diagnostik lanjutan atau tindakan medis, maka yang bersangkutan harus menandatangani Surat Bukti Pemeriksaan dan Tindakan setiap kali dilakukan, dan bagian administrasi pasien rawat inap akan melakukan konfirmasi kebagian asuransi apakah tindakan atau pemeriksaan yanga akan dilakukan masuk ke dalam plafon asuransi pasien
       7.         7.  Setiap selesai rawat inap, peserta/orangtua peserta bersangkutan harus menandatangani Surat Bukti Rawat Inap dan pasien akan mendapatkan perintah untuk kontrol kembali ke spesialis yang bersangkutan.
       8.           8.  Pasien akan membawa surat perintah kontrol kembali dari dokter spesialis ke dokter PPK I untuk mendapatkan Surat Rujukan PPK I ke dokter spesialis di RS yang ditunjuk.
       9.          9.  Selanjutnya berlaku prosedur rawat jalan dokter spesialis di RS
   10.           10.  Jawaban rujukan dari dokter spesialis dapat diberikan kembali kepada dokter keluarga di PPK I


Daftar Pustaka :
Adikoesoemo, Suparto. 2003. Manajemen Rumah Sakit. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Aditama, Yoga Tcandra. 2006. Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Edisi 2. Jakarta: UIPress.
Azwar, Azrul. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan 3rd edition. Binarupa aksara.

Sabarguna, Boy S. Quality Assurance Pelayanan Rumah Sakit, Sagung seto: Jakarta, 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tugas online 2 pelayanan rawat jalan

tugas online 1 pelayanan gadar